WASPADALAH…!! telpon penipuan.

Beberapa waktu lalu ada walrid yang datang ke sekolah sambil menangis histeris karena ada yang nelpon mengabarkan bahwa si anak mengalami musibah jatuh di TK dan gegar otak, tentunya siapa yang tidak  gugup dan paniknya si walrid yang tentu dalam perjalanan dari rumah  ke Tk dibayangi dengan perasaan kawatir akan kondisi dan keadaan si anak.Penipuan-Melalui-Telepon

Sesampai di TK ternyata si anak lagi asyik  bermain dengan sang guru dalam kondisi sehat wal afiat tanpa terjadi suatu apapun yang membuat  si anak sakit.

Dari peristiwa ini jelas ada modus dari penelpon kepada walrid dengan tujuan yang tidak baik yaitu penipuan.Tetapi  kita masih bersyukur kepada Alloh SWT masih melindungi walrid dan  walrid belum sempat transfer karena memilih untuk pergi ke sekolah untuk memastikan kejadiannya.

Kenali Ciri-Ciri Telepon Penipuan

Perlu diketahui bahwa penipuan lewat media telekomunikasi tidak dijalankan hanya satu orang, melainkan sebuah jaringan yang telah terorganisir dan tak jarang telah dibekali dengan berbagai keahlian tertentu seperti dalam hal IT (hacker cloning dll) hingga psikologis mengolah kata-kata, atau yang tenar disebut dengan hypnosis. Oleh karena tak mengherankan jika mereka terlihat sangat tenang dan menyakinkan saat berbicara.

Selain itu, dalam kasus lain penipu akan menggunakan trik memberikan beban psikologis yang tidak bisa kita hindari, contohnya dalam modus mengatakan bahwa ada anak kita atau saudara dan rekan kita yang baru saja kecelakan dan butuh dana operasi secepatnya. Dalam hal ini yang sangat dibutuhkan adalah ketenangan untuk tidak panik.

Skema Penipuan Bekerja dalam Tim

Hal berikutnya yang bisa kita cermati dari kasus di atas adalah kebanyakan upaya penipuan lewat telepon akan bekerja dalam tim. Pada kasus tersebut, kawanan penipu juga berpura-pura menjadi seorang petugas sekolah / TK / lembaga / guru yang akan berbicara terkait masalah yang muncul kemudian dimunculkan tokoh yang meyakinkan seperti  dokter dan lain-lain

Kembali lagi yang diperlukan adalah berfikir secara realistis. Jangan terpancing oleh masalah yang dibuat oleh si pelaku. Selain itu diperlukan juga keberanian dalam diri kita untuk menghadapi suatu masalah. Tipsnya adalah jangan mau didekte oleh orang asing yang menelepon Anda. Ketika mendapat telepon yang merasa ada keanehan, cepatlah sadarkan diri anda dan coba untuk “melawan” balik.

Melawan ini bisa artikan dengan berbicara cukup banyak ketimbang di orang di seberang sambungan telepon. Coba tanyakan hal-hal detil dan banyak informasi dari orang tersebut seperti “mau bicara dengan siapa ? (bener nama kita apa tidak), “sekolah di mana ?? (bener gak nama sekolah tersebut), “ siapa nama anak kita ?? (bener gak nama anak kita). Kalau kita terpancing dengan jawaban  kita sendiri dengan menyebut nama kita, sekolah anak dan nama anak kita, maka si peenelpon akan memberikan jawab “iya” dan kita mengiyakan/meyakini jawabannya. Padahal info itu dari kita sendiri.

Umumnya yang berhasil terpedaya adalah mereka yang lebih banyak menjawab pertanyaan, mungkin dengan kata “ya”, “tidak” atau jawaban singkat lain. Jika Anda merasa Anda sudah berada dalam kondisi tersebut, cepat sadarkan diri Anda, jika tidak berani melakukan perlawanan, lebih baik tutup saja tanpa berbicara atau memberikan informasi apapun (opsi yang lebih aman).

Kenapa lebih aman? Logikanya adalah jika memang itu telepon yang penting dan tidak menipu. Maka mereka akan mencoba menghubungi kembali. Namun jika itu upaya penipuan, terkadang (karena mungkin saja masih terus dikejar) para penipu akan berfikir ulang menghubungi kita, karena dianggap kita sudah mencurigai mereka.

Lebih Waspada Tentang Kemungkinan Menjadi Korban

Melihat kasus di atas, kita bisa mempelajari beberapa hal seperti yang telah kita bahas tadi. Namun lebih dari itu, sebenarnya langkah terbaik yang bisa  kita lakukan adalah dengan mempersiapkan diri kita agar paling tidak mengurangi resiko menjadi korban penipuan via telepon.

Salah satu kran munculnya resiko menjadi korban penipuan adalah kurangya kewaspadaan dalam memberikan informasi pribadi kita. Hal ini sangat terlihat dari mudahnya kita memberikan banyak informasi pribadi mulai nama, tanggal lahir, alamat, nomor kontak dan banyak informasi lain via media sosial.

Mintalah no HP sang guru / wali kelas untuk second information terkait kalau ada berita yang tidak jelas tersebut.

Kemudian jangan memasang stiker happy families dengan gambar dan tulisan yang terdiri dari papa, bunda, adi, ani, sampai si meong pun di tulis di ada disitu. Nama yang muncul bisa menjadi trigger bagi orang untuk berskenario.

Dari sini, tentu kita wajib lebih mempertebal kewaspadaan diri dan memperbanyak pengetahuan terkait hal-hal seperti ini. Dan tidak lupa, mungkin keluarga, teman atau saudara Anda belum tahu, maka sebarkan informasi seperti ini karena kejahatan menyerang tanpa pandang bulu. Be save be smart

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *