OPTIMALISASI POTENSI ANAK TANPA EKSPLOITASI (2)

PENDAMPINGAN BELAJAR

Respon yang sebaiknya dilakukan orang tua dan guru dalam menghadapi anak-anak yang bermasalah :
 Menghadapi emosi-emosi negatif anak, dan saat emosi negatif anak muncul sebaiknya orang tua dan guru menciptakan hubungan yang akrab.
 Sabar menghadapi anak yang sedih, marah, atau ketakutan, dan tidak menjadi marah jika menghadapi emosi anak.
 Sadar dan menghargai emosi-emosinya sendiri.
 Melihat emosi negatif sebagai arena yang penting dalam mengasuh anak.
 Peka terhadap keadaan emosi anak, walaupun ungkapan emosinya tidak terlalu kelihatan.
 Tidak bingung atau cemas menghadapi ungkapan-ungkapan emosional anak.
 Tidak menanggapi lucu atau meremehkan perasaan negatif anak.
 Tidak memerintahkan apa yang harus dirasakan oleh anak.
 Tidak merasa bahwa guru harus membereskan semua masalah bagi anak.
 Menggunakan saat-saat emosional sebagai saat untuk mendengarkan anak, berempati dengan kata-kata yang menyejukkan, menolong anak memberi nama emosi yang sedang dirasakan, menentukan batas-batas dan mengajarkan ungkapan emosi yang dapat diterima, dan mengajarkan anak untuk terampil dalam menyelesaikan masalah.

 

MASALAH ANAK TK

 

a.  Penakut
Setiap anak memiliki rasa takut, namun jika berlebihan dan tidak wajar maka perlu diperhatikan.  Rasa takut anak TK biasanya terhadap hewan, serangga, gelap, dokter atau dokter gigi, ketinggian, monster, lamunan, sekolah, angin topan, dll.  Rasa takut yang berlebihan terlihat dalam gejala-gejala seperti berikut :
 Gejala psikis, seperti : gangguan makan, tidur, perut, sulit bernafas, dan sakit kepala.
 Gejala emosional, seperti : rasa takut, sensitif, rendah diri, ketidakberdayaan, bingung, putus asa, marah, sedih, bersalah.
 Gejala tingkah laku seperti : gangguan tidur, mengisolasi diri, prestasi kurang di sekolah, agresi, mudah tersinggung, menghindari pergi keluar, ketergantungan pada suatu benda, dan terus berada di kamar orang tua.
Penyebab anak memiliki rasa takut :
 Intelegensi (anak-anak yang tingkat intelegensi tinggi cenderung punya rasa takut yang sama dengan anak yang berusia lebih tua, demikian pula sebaliknya).
 Jenis kelamin (anak perempuan lebih takut dibanding laki-laki karena lingkungan sosial lebih menerima rasa takut perempuan).
 Keadaan fisik (anak cenderung takut bila dalam keadaan lelah, lapar atau kurang sehat).
 Urutan kelahiran (anak sulung cenderung lebih takut karena perlindungan yang berlebihan).
 Kepribadian anak (anak yang kurang memperoleh rasa aman cenderung lebih penakut).
 Adanya contoh yang dilihat anak, seperti : tontonan TV, atau ibu yang takut.
 Trauma yang dialami anak-anak, seperti : tabrakan mobil, angina topan, bencana alam, dll.
 Pola asuh orang tua yang menghidupkan rasa takut anak seperti : paksaan, hukuman, ejekan, ketidakperdulian, dan pelindungan di luar batas.
Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan orang tua dan pendidik :
 Mendengarkan cerita anak.
 Lindungi dan hibur anak.
 Ajari kenyataan.
 Memberi hadiah.
 Memberi contoh teladan (guru sebagai model).
 Coping model (adalah salah satu cara seseorang menghadapi rasa takut namun ia harus melewati rasa takut itu.   Salah satu cara dengan bicara pada diri sendiri).
 Mendongeng.
 Melakukan aktivitas penuh tantangan.
 Memanfaatkan imajinasi anak untuk menumbuhkan keberanian.
 Menggambar.

b. Agresif
Agresif adalah tingkah laku menyerang baik secara fisik maupun verbal atau melakukan ancaman sebagai pernyataan adanya rasa permusuhan.  Perilaku tersebut cenderung melukai anak lain seperti menggigit, mencakar, atau memukul.  Bertambahnya usia diekspresikan dengan mencela, mencaci dan memaki.
Gejala anak yang agresif :
 Sering mendorong, memukul, atau berkelahi.
 Menyerang dengan menggunakan kaki, tangan, tubuhnya untuk mengganggu permainan yang dilakukan teman-teman.
 Menyerang dalam bentuk verbal seperti :  mencaci, mengejek, mengolok-olok, berbicara kotor dengan teman.
 Tingkah laku mengganggu muncul karena ingin menunjukkan kekuatan kelompok.  Biasanya melanggar aturan atau norma yang berlaku di sekolah seperti : berkelahi, merusak alat permainan milik teman, mengganggu anak lain.
Penyebab anak agresif
 Pola asuh yang keliru (melakukan kekerasan terhadap anak, otoriter terhadap anak dan terlalu protektif, terlalu memanjakan anak (orang tua selalu mengijinkan atau membenarkan permintaan anak).
 Reaksi emosi terhadap frustasi (banyaknya larangan yang dibuat guru atau orang tua (kecemasan yang berlebihan), sementara anak melakukan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhannya).
 Tingkah laku agresif sebelumnya (tingkah laku agresif yang pernah dilakukan anak mendapat penguatan dari keluarga atau guru).
Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan orang tua dan pendidik :
 Bermain peran.
 Belajar mengenal perasaan.
 Belajar berteman melalui permainan beregu.
 Beri penguatan jika anak berperilaku tepat dengan temannya.
 Perbanyak kegiatan yang menggunakan gerakan motorik.

c. Pemalu
Pemalu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan, yang timbul pada seseorang, akibatnya adanya penilaian negatif terhadap dirinya.
Ciri anak pemalu adalah :
 Kurang berani bicara dengan guru atau orang dewasa.
 Tidak mampu menatap mata orang lain ketika berbicara.
 Tidak bersedia untuk berdiri di depan kelas.
 Enggan bergabung dengan anak-anak lain.
 Lebih senang bermain sendiri .
 Tidak berani tampil dalam permainan.
 Membatasi diri dalam pergaulan.
 Anak tidak banyak bicara.
 Anak kurang terbuka.
Penyebab anak pemalu
 Keadaan fisik.
 Kesulitan dalam bicara.
 Kurang terampil berteman.
 Harapan orang tua yang terlalu tinggi.
 Pola asuh yang mencela
Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan orang tua dan pendidik :
 Melibatkan anak pada kegiatan yang menyenangkan.
 Belajar bergabung melalui permainan.
 Mengajar cara mulai berteman.
 Dorong anak berpartisipasi dalam kelompok.

 

BELAJAR MANDIRI

Biarkan si kecil melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan hariannya seperti makan, ganti baju, sikat gigi, dan lainnya.  Meski belum sempurna, asal terus dilatih, perlahan-lahan ia akan terampil dan tentu caranya harus tepat agar memperoleh hasil yang optimal.
Mengacu pada teori perkembangan, setiap rentang usia punya patokan tentang kemampuan atau keterampilan apa saja yang diharapkan dikuasai anak.  Salah satunya, menolong diri sendiri, yaitu kemampuan atau keterampilan melakukan sendiri kegiatan-kegiatan sehari-hari untuk diri sendiri seperti makan, mandi, berpakaian, dan lainnya.  Tujuannya, agar secara bertahap anak tidak lagi sepenuhnya bergantung pada orang lain atau orang tua.
Tentunya target yang harus dicapai berbeda-beda sesuai tingkatan usia anak.  Makin besar usia, makin tinggi pula targetnya.  Dengan harapan sejalan bertambahnya usia anak, kemampuannya harus ada peningkatan.  Semisal, saat usia 3 tahun si kecil baru bisa memakai baju yang belum banyak kancingnya seperti T-shirt atau baju berkancing satu-dua, maka di usia 4 atau 5 tahun ia diharapkan sudah bisa memakai baju yang banyak kancingnya.
INGAT ! Perkembangan tiap anak berbeda (individual difference).
 Jadi, apa yang bisa dilakukan seorang anak, belum tentu bisa dilakukan anak lain kendati usia mereka sama.  Apalagi perkembangan anak selalu dipengaruhi dua faktor penting, yaitu nature (bawaan) dan nurture (pengasuhan).  Pemberian stimulus atau rangsangan orang tua penting agar anak berkembang optimal.

 

 

BEBERAPA KEMAMPUAN

Selain bisa buka-pakai baju sendiri, sejak usia 3 tahun pun si kecil sebenarnya sudah mampu memakai celana yang beritsluiting dan bergesper, juga memakai sepatu dan kaos kaki.  Mandi pun ini sudah bisa dilakukan sendiri oleh si kecil.  Hanya ia belum bisa menggapai punggungnya, hingga kita harus membantu menyabuni bagian tersebut.  Si kecil juga sudah mengerti kalau mau BAK atau BAB harus di tempatnya dan apa yang harus ia lakukan sesudahnya.  Namun kita tetap harus mengawasinya, terutama cara ia membersihkan alat kelaminnya. Biasanya di usia 5 tahun, ia sudah bisa melakukannya dengan benar.  Lainnya adalah kemampuan menggosok gigi, mencuci dan mengelap tangan tanpa dibantu, makan sendiri, menuang air dari teko kecil ke dalam gelas, bahkan memotong makanan dengan pisau (biasanya di usia 4-5 tahun), dan sebagainya.  Diharapkan, pada akhir usia 5 tahun, anak sudah memiliki semua kemampuan tersebut.

 

BERI KESEMPATAN

Tentunya, semua kemampuan atau keterampilan di atas bisa dilakukan si kecil di usia ini jika di usia-usia sebelumnya memang sudah diajarkan atau dilatih.  Jika untuk menyuapkan makanan ke mulutnya saja ia belum mampu, bagaimana ia bisa makan sendiri ? maka diperlukan kemampuan menggunakan sendok dan menyuapkan makanan ke mulut (meski masih sedikit tumpah), merupakan target yang harus dicapai di akhir usia 2 tahun.
Jangan lupa, pemberian stimulus amat penting buat tercapainya kemampuan/keterampilan yang harus dimiliki anak dalam tiap tahapan usianya.  Hal serupa juga tetap perlu kita lakukan sekalipun kemampuan atau keterampilan si kecil melampaui target yang seharusnya. Kita harus mendorongnya agar bisa lebih ke depan lagi dengan catatan harus tanpa paksaan.

 

CARA EFEKTIF

Orang tua membantu hanya pada awalnya, lalu anak diajarkan perlahan-lahan secara bertahap.  Semisal kita ingin si kecil bisa pakai baju sendiri, maka awalnya kita sediakan bajunya, baru si kecil pakai sendiri.  Secara bertahap kita ajak dia memilih sendiri baju yang akan dipakainya, hingga akhirnya dia bukan hanya bisa memilih sendiri tapi juga tahu mana baju rumah, baju tidur, baju jalan-jalan, dan sebagainya.
Namun dalam mengajarkan atau melatih si kecil, diperlukan kesabaran, sehingga waktu yang disediakan pun harus panjang.  Semisal, saat mengajarkan makan, biarkan anak menghadapi piringnya sendiri agar ia punya pengalaman bagaimana caranya memegang sendok dengan benar dan memasukkannya ke mulut tanpa tumpah makanannya.  Biarkan mereka bereksperimen.  Bimbingan dan pengawasan dari kita kala pertama kali belajar sangat strategis dibutuhkan.
Hal lain yang harus diperhatikan, apa pun langkah dan hasil yang ditunjukkan si kecil, kita wajib menghargainya.  Jadi, bila si kecil yang sedang belajar mengancingkan baju ternyata cuma 1 kancing yang dikaitkan padahal ada 2 kancing, kita tetap harus menghargainya.  Jangan kita malah melecehkannya.  Pelecehan hanya akan melemahkan semangat anak hingga ia pun tak termotivasi untuk belajar dan berlatih lagi.
Penting diketahui, dengan mengajari atau melatih si kecil untuk menolong dirinya sendiri, sekaligus kita mengajarinya bertanggung jawab pada diri sendiri.  Ketika terbiasa ditolong dan sering dimarahi kala gagal atau salah, maka ia tak punya pengalaman untuk menolong diri sendiri atau pengalaman yang diperolehnya tak menyenangkan karena dimarahi melulu, maka ia pun tak merasakan adanya kebanggaan atas kemampuannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *