OPTIMALISASI POTENSI ANAK TANPA EKSPLOITASI (1)

Disampaikan pada acara Talk Show oleh Drs. Yohanoto – KRESNA DUTA KENCANA LABORATORY yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Silaturahmi Orang tua (FKSO) KB/TK Alam Ar Rayyan pada hari sabtu tanggal 16 April 2011.

 

TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN

Ketika berbicara mengenai usia manusia, di ilmu psikologi dikenal 2 (dua) macam jenis usia yakni chronological age (usia kronologis) dan mental age (usia mental).  Chronological age atau disebut juga usia kalender adalah usia seseorang yang dihitung sejak lahir sampai waktu tertentu (Chaplin, 2002).  Dalam kehidupan sehari-hari ketika seseorang ditanya berapa usianya, pada umumnya dijawab dengan usia kronologis.  Sedangkan mental age adalah usia yang merujuk pada tingkat kemampuan mental seseorang setelah dibandingkan dengan kelompok seusianya (Chaplin, 2002).

Untuk menentukan usia mental seseorang dibutuhkan metode tertentu, biasanya secara formal dengan menggunakan tes kemampuan psikologis.  Dengan demikian penentuan usia mental seseorang secara formal membutuhkan rekomendasi ahli yang berkecimpung di bidang pengukuran psikologis.  Usia mental seseorang tidak selalu sejajar dengan usia kronologisnya.  Bisa saja seseorang memiliki usia mental yang lebih tinggi atau mungkin lebih rendah dari usia kronologisnya.  Mereka yang memiliki usia mental lebih tinggi dari usia kronologisnya, maka dalam tampilan perilakunya akan terlihat lebih dewasa dan lebih matang dibanding kelompok seusianya.  Sebaliknya mereka yang memiliki usia mental yang lebih rendah dari usia kronologisnya, maka dalam tampilan perilakunya terlihat kurang dewasa dan kurang matang dibandingkan orang-orang seusianya.

Terlepas dari berapa panjang rentang kehidupan seseorang, ukuran kronologis atau usia adalah kriteria pokok untuk menentukan tahap-tahap perkembangan individu.  Pembagian ukuran kronologisnya adalah sebagai berikut :
1. Periode Pranatal – Prenatal (masa sebelum kelahiran hingga kelahiran).
2. Bayi – Babyhood (kelahiran sampai akhir minggu kedua).
3. Masa bayi – Infacy (akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua).
4. Awal masa kanak-kanak – Early Childhood (dua sampai enam tahun).
5. Akhir masa kanak-kanak – Late Childhood (enam sampai sepuluh atau dua belas tahun).
6. Masa pubertas – Preadolescence (sepuluh atau dua belas sampai tiga belas atau empat belas tahun).
7. Masa remaja – Adolescence (tiga belas atau empat belas sampai delapan belas tahun).
8. Awal masa dewasa – Early Adulthood (delapan belas sampai empat puluh tahun).
9. Usia pertengahan – Midle Adulthood (empat puluh sampai enam puluh tahun).
10. Masa tua atau usia lanjut – Aging (enam puluh tahun sampai meninggal).

Dalam rentang kehidupan manusia tugas-tugas perkembangan (menurut Havighurst) dapat diklasifikasikan secara sederhana seperti di bawah ini :

Masa Bayi dan Awal Masa Kanak-kanak (0-6 tahun)
+ Belajar memakan makanan padat.
+ Belajar berjalan.
+ Belajar berbicara.
+ Belajar mengendalikan alat-alat pembuangan.
+ Mempersiapkan diri untuk membaca.
+ Belajar membedakan benar dan salah, dan mulai mengembangkan hati nurani.

Akhir Masa Anak-anak (6-12)
+ Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum.
+ Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh.
+ Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya.
+ Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat.
+ Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis, dan berhitung.
+ Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.
+ Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata tingkatan nilai.
+ Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga.
+ Mencapai kebebasan pribadi.

Masa Remaja (12-18)
+ Mencapai hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.
+ Mencapai peran sosial pria, dan wanita.
+ Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif.
+ Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab.
+ Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
+ Mempersiapkan karier ekonomi.
+ Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
+ Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku-mengembangkan ideologi.

Awal Masa Dewasa (18-40)
+ Mulai bekerja.
+ Memilih pasangan.
+ Belajar hidup dengan tunangan.
+ Mulai membina keluarga.
+ Mengasuh anak.
+ Mengelola rumah tangga.
+ Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.
+ Mencari kelompok sosial yang menyenangkan.

Masa Usia Pertengahan (40-60)
+ Mencapai tanggung jawab sosial dan dewasa sebagai warga negara.
+ Membantu anak-anak remaja belajar untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, dan bahagia.
+ Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang untuk orang dewasa.
+ Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai suatu individu.
+ Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada tahap ini.
+ Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier pekerjaan.
+ Menyesuaikan diri dengan orang tua yang semakin tua.

Masa Tua (di atas 60 tahun)
+ Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan.
+ Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya income (penghasilan) keluarga.
+ Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup.
+ Membentuk hubungan dengan orang-orang seusia.
+ Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan.
+ Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penguasaan Tugas-Tugas Perkembangan
Yang menghambat :
– Tingkat perkembangan yang mundur.
– Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada bimbingan untuk mengatasinya.
– Tidak ada motivasi.
– Kesehatan yang buruk.
– Cacat tubuh.
– Tingkat kecerdasan yang rendah.

Yang membantu :
– Tingkat perkembangan yang normal atau yang diakselerasikan.
– Kesempatan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan bimbingan untuk menguasainya.
– Motivasi.
– Kesehatan yang baik dan tidak ada cacat tubuh.
– Tingkat kecerdasan yang tinggi.
– Kreativitas.

KECERDASAN EMOSIONAL
ILUSTRASI : (Si kecil Ferdi pulang dengan menangis.  Bunda Tata kesulitan meredakan tangisan anaknya yang berusia 5 tahun itu.  Setelah dibujuk beberapa saat, barulah situasi menjadi tenang.  Tapi keadaan kembali memburuk, ketika si Astrid putri sulungnya datang dalam keadaan marah.  Tentunya situasi akan jadi tidak terkendali, ketika bunda Tata menerima situasi tersebut dengan panik.  Akhirnya Ferdi mengungkapkan bahwa salah satu anak laki-laki di kelasnya mengejek dia dengan sebutan anak cacingan, sedang Astrid berkata kalau ia sangat membenci olahraga.  Alasannya karena ia mengaku dipermalukan di sekolah karena tidak bisa bermain voli oleh gadis-gadis yang lain).

Bagaimana menurut Anda ?
Hal terpenting bagi orang tua adalah mengajarkan anak-anak mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka, sekecil apapun.  Memahami kecerdasan emosional seorang anak adalah langkah pertama dalam melakukannya.

Apa itu Kecerdasan Emosional?
Emotional Intelligence adalah kemampuan untuk mengelola emosi seseorang dengan cara yang sehat dan produktif atau kemampuan seseorang untuk menangani perasaan mereka.  Orangtua sepatutnya menyadari hal ini bahwa tidak hanya kecerdasan kecerdasan intelektual (IQ) anak-anak saja yang penting bagi perkembangan mereka, tetapi yang tidak kalah penting ialah kecerdasan emosional mereka.  Istilah kecerdasan emosional dan kecerdasan emosi pertama kali digunakan oleh psikolog Peter Salovey dan John Mayer pada tahun 1990.  Namun, Daniel Goleman lebih populer karena buku-buku karangannya lebih menawarkan pendekatan faktual.  Kecerdasan emosional membantu dalam mengembangkan emosi kesadaran diri.  Hal ini memungkinkan seseorang untuk memahami perasaannya.  Ini juga memberdayakan seseorang untuk menangani emosi secara tepat.

Mengapa Emotional Intelligence Penting untuk anak Anda?
Kecerdasan emosional adalah penting bagi seorang anak tidak hanya untuk memahami dirinya sendiri, tetapi juga membantu dia untuk memahami perasaan dan emosi orang lain.  Seorang anak dengan kecerdasan emosi tinggi akan menjadi lebih bertanggung jawab dan hormat.  Dia akan memiliki kemampuan meningkat menjadi menunjukkan empati dan merasa lebih mudah untuk mengembangkan pengendalian diri.  Di sisi lain, anak dengan kecerdasan emosional yang rendah akan sering merasa tidak berdaya.

Bagaimana Anda meningkatkan anak Anda Emotional Intelligence?
 Amati anak Anda dan pastikan perasaan yang berada di belakang perilakunya.  Dorong anak Anda untuk mencoba untuk menjelaskan perasaannya.
 Mengembangkan kecerdasan emosi anak Anda dimulai dengan mengajarinya untuk memahami perasaannya.  Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan menggambarkan perasaan Anda sendiri untuk anak Anda.
 Berikan anak Anda kerangka batas-batas yang ia harus mematuhi. Hal ini akan membantu memastikan bahwa ia membangun pengendalian diri.
 Memperkenalkan dia untuk buku aktivitas yang khusus ditulis untuk membantu membangun anak EQ. Cobalah untuk mengajarkan kepadanya bagaimana menangani kekecewaan dan bagaimana untuk bertahan dengan sebuah tantangan.

Apa perbedaan antara IQ dan EQ?
Intelligence Quotient dapat diukur dengan melakukan tes IQ.  Skor IQ yang kurang lebih tetap sama sepanjang hidup seseorang.  Di sisi lain, skor EQ dapat ditingkatkan, setiap pribadi dapat diajarkan bagaimana memahami dan menangani perasaan orang lain.  Anak dengan IQ tinggi cenderung orientasinya akan lebih terfokus pada fakta-fakta untuk meyakinkan seseorang, sementara anak dengan EQ tinggi cenderung orientasinya akan menggunakan emosi dan kemampuan kognitif untuk menarik perasaan seseorang dan penalaran.  EQ lebih penting dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *