Dra. Resmiati Ratri Respati : Daun tak selalu hijau dan batang tak selamanya cokelat. (Wawancara dengan Wartawan Malang Post )

Konsep sekolah alam di KB/TK Alam Ar Rayyan berasal dari ide Ketua Yayasan Nuur Ar Rayyan, Dra. Resmiati Ratri Respati. Berkaca dari pengalamannya membesarkan tiga buah hatinya, alumnus Sarjana  Pendidikan IKIP Negeri  Malang ini merasa pendidikan TK belum banyak mengalami perkembangan sejak masanya hingga saat ini.
Pendidikan di TK sebeklumnya cenderung konvensional dan tidak mendukung daya imajinasi, kreasi dan perkembangan fisik pada anak. Ar Rayyan digagas untuk menjawab semua kekurangan pada sistem konvensional.
“Saat  anak-anak saya kecil mereka diajari bahwa daun itu berwarna hijau, batang itu cokelat atau bunga itu merah.
Anak-anak tidak diajarkan bawa ada beragam bentuk daun, bunga dan batang yang tidak berwarna lazim di alam.” kata Resmiati pada Koran Sekolahku.
Sejak tahun 2006 kurikulum alampun dipilih untuk menghasilkan sistem belajar yang berbeda. Siswa diajak untuk melibatkan alam langsung disetiap mata pelajaran. Bangunan Ar Rayyan pun dibuat berbeda dengan suasana kelas yang nyaman dan tidak terkesan seperti di kelas.
Atap, dinding dan lantai terbuka dari kayu ulin membuat siswa tidak terpatok bahwa bangunan selalu identik dengan tembok/beton. Bahwa alampun bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia.
“Dengan kelas terbuka siswa kami ajak agar tidak jemu dengan ruang kelas. Di tengah kegiatan belajar siswa bisa bertanya tentang capung ketika ada capung yang hinggap masuk di kelas, tidak ada larangan dari guru untuk membatasi pertanyaan siswa. Tinggal daya kreasi guru untuk menjawab pertanyaan dengan pesan moral, ilmu pengetahuan ataupun pendidikan budaya” jelasnya.
Siswa juga diajak untuk membaca alam, misalnya melihat fenomena mendung yang mendahului hujan, atau datu kering ketika musim kemarau tiba.
Namun bukan hanya aspek akademis dan perkembangan diri anak saja yang dipentingkan, aspek nasionalisme juga menjadi salah satu karekter yang dikembangkan sejak dini. Ar Rayyan memilih definisi nasionalisme dalam tahap yang sangat sederhana yaitu mencintai tradisi lokal yang ada di lingkungan sekitar. “Kami memilih bahasa Jawa sebagai salah satu aplikasi nasionalisme lokal. Setiap hari sabtu kami adakan hari berbahasa Jawa di sekolah. Dalam lingkup yang lebih besar siswa diajak untuk mencintai tanah kelahiran lengkap dengan keragaman budaya dan bahasa yang ada.” ujarnya ramah. (pit/eno)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *