Category Archives: Uncategorized

Outbond dan Father’s Day

Assalamualaikum Wr. Wb.

KB/TK Alam Ar Rayyan akan mengadakan kegiatan Outbond dan Father’s Day, adapun kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal  : Minggu, 20 Nopember 2016

Tempat            : Bhakti Alam – Pasuruan

Kostum            : Seragam Olah Raga

Demikian pemberitahuan kami, atas perhatian Bapak/Ibu kami sampaikan terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Hijab I’m in Love

“Kutemukan banyak sekali keindahan dalam jilbab ini. Wahai Orangtuaku terimakasih telah memperkenalkanku dengan jilbab.”

image

image

Membuat Playdough dari Bahan Alam

image

Membuat playdough. Aman bagi anak-anak karena terbuat dari tepung terigu, garam, air dan pewarna makanan. Bermain playdough dapat melatih motorik halus, kekuatan tangan, sehingga anak siap belajar menulis. #playdough #bahanalam #safety

Bahan:

4 pewarna makanan
4 cup tepung terigu
1½ cup garam halus
1 cup air hangat
2 sdt minyak sayur
Terigu untuk menguleni adonan

Cara membuat:

Campurkan terigu dan garam dalam satu wadah. Aduk rata kemudian sisihkan.Bagi 1  cup air tadi ke 4 mangkuk yang sudah disiapkan.Berikan pewarna makanan secukupnya, jika cair masukkan sekitar 5 tetes, jika berbentuk gel cukup sekitar 3 tetes. Campur rata dengan air.Masukkan 1/2 sdt minyak ke masing-masing mangkuk. Aduk rata.Tuangkan 1 cup campuran terigu-garam untuk satu mangkuk isi air berwarna. Gunakan sendok untuk mengadok adonan hingga rata.Tabur sedikit terigu, keluarkan adonan dari mangkuk, uleni di atas taburan terigu hingga adonan kalis, tidak ada lagi adonan yang menempel di tangan. Tidak usah takut menambah terigu sedikit demi sedikit saat menguleni adonan. Feel free to add more flour if you feel your play dough still sticky! Simpan di wadah kedap udara atau plastik dengan zip lock, dan masukkan di lemari pendingin selama 30 menit hingga 1 jam untuk membuat adonan tahan lama. Setelah bermain, simpan kembali di wadah kedap udara agar adonan tidak keras dan mengering.

Oleh: Ivan Bagus Yudhistira
TK Alam Ar Rayyan

Efek Negatif Hyper Parenting (Pemaksaan Kehendak Orangtua Pada Anak)

Setiap orangtua tentu menginginkan hal-hal yang terbaik untuk anak-anak mereka. Orangtua pasti ingin anak-anak mereka semua sukses di dunia dan di akhirat. Mereka ingin anak-anak-anak mereka semua dapat hidup bahagia, punya karir mantap, penghasilan yang lebih dari cukup, perilaku yang baik dan menyenangkan, dan lain sebagainya.

Sayangnya, tidak semua orangtua memahami bahwa masing-masing anak memiliki kepribadian, karakter, bahkan juga impian dan cita-cita. Sering kali kita sebagai orangtua memaksakan kehendak kita kepada anak-anak tanpa menimbang kemampuan, kesiapan, dan perasaan anak-anak dengan dalih karena kita ingin anak-anak kita mendapatkan yang terbaik untuk kehidupan mereka.

Kita tidak boleh menjadi orangtua yang hyper parenting, yaitu orangtua yang memaksakan kehendaknya kepada anak-anak mereka untuk mewujudkan keinginan kita sebagai orangtua. Bahkan meski itu untuk tujuan mengembangkan kemampuan dan mewujudkan kehidupan yang baik bagi mereka.

Tidak bisa dipungkiri juga, bahwa orangtua yang menerapkan pola asuh demikian (hyper parenting) biasanya mengalami masa kecil yang hampir sama. Atau, biasanya juga terjadi pada orangtua yang merasa tidak puas dengan karir atau segala hal yang mereka peroleh, sehingga mereka melampiaskannya pada anak-anak mereka.

Sebenarnya, wajar saja jika orangtua berharap anak-anak mereka dapat mewujudkan keinginan mereka. Tapi, kita pun perlu tahu bahwa memaksakan kehendak bukanlah jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah. Ada dampak yang bisa menjadi sangat fatal bagi anak-anak, yaitu dapat menghambat pertumbuhannya, juga dapat menimbulkan kemarahan yang berlebihan dikarenakan anak-anak merasa tidak memiliki kebebasan untuk memilih atau melakukan keinginannya sendiri.

Padahal, pada dasarnya, setiap anak-anak memiliki jiwa yang bebas dan ingin bebas. Anak-anak juga dapat berkembang dengan baik karena mereka memiliki kebebasan untuk bereksplorasi, berpendapat, juga merasa bahagia. Proses ini harus mereka lalui dalam kehidupan mereka, agar mereka dapat memaksimalkan potensi mereka, juga mengasah kecerdasan mereka dalam masa tumbuh kembang.

Bagaimana jika kita menggunakan alasan “takut jika anak-anak terjerumus pada hal-hal maksiat yang mendatangkan murka Allah”?

Bahkan meski demikian, kita tidak bisa memaksakan kehendak kita secara brutal (baca : mutlak). Harus ada proses untuk memberikan pengertian dan pemahaman, kemudian memberikan opsi-opsi dan jabaran konsekuensi yang harus mereka terima. Sebijak mungkin, jangan sampai kita menjadi orangtua yang hyper parenting. Karena sesuatu yang baik, harus disampaikan dengan cara yang baik pula, agar hasilnya pun baik.

Berikut ini adalah beberapa ciri dari orangtua yang hyper parenting :
* Sering merasa cemas secara berlebihan tentang anak-anak mereka
* Kebablasan dalam menjalankan kedisiplinan untuk anak-anak
* Senang membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lain, bahkan dengan anak orang lain
* Menjadikan prestasi sebagai ukuran keberhasilan (anak didoktrin untuk selalu menjadi nomor satu) dengan mengesampingkan bahwa masing-masing anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda
* Kecewa secara berlebihan jika melihat kegagalan anak-anak, bahkan tak jarang menyalahkan guru atas kegagalan tersebut
* Tidak suka jika anak-anak mereka dikritik atau diberi masukan
* Tidak suka jika anak-anak memiliki waktu “bebas” untuk bermain bersama kawan-kawannya atau melakukan hobi yang disukainya

Sedangkan dampak atau efek negatif yang dapat timbul karena orangtua senang memaksakan kehendak mereka pada anak-anak :
* Anak-anak menjadi pemarah, emosional, pemberontak, dan pendendam
* Mudah cemas dan memiliki kekhawatiran yang berlebihan
* Sering sakit (terutama sakit kepala)
* Kurang ekspresif, kurang bisa bergaul, dan malas berbicara
* Nampak tertekan, tidak bahagia, dan tidak bergairah
* Dapat mendorong anak untuk melakukan hal-hal menyimpang.

Melatih Anak Puasa Ramadhan Sejak Dini

Melatih anak puasa, menanamkan kedisiplinan sejak dini

IMG_7179

Melatih anak puasa, sebagai pendidikan kedisiplinan dan keagamaan di dalam lingkup keluarga. Keluarga merupakan landasan dasar tempat anak belajar baik dari perilaku maupun bimbingan orangtua. Anak merupakan penerus bagi kehidupan bangsa. Pendidikan akhlak dan karakter anak sebaiknya mulai distimulasi sejak dini oleh orangtua.

Bulan Ramadhan yang dikenal sebagai bulan penuh keutamaan bagi umat Islam di dunia, bisa dijadikan moment yang tepat untuk pendidikan disiplin dan akhlak anak sejak dini. Kebetulan kita tinggal di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim, sehingga bulan Ramadhan akan benar-benar terasa kekhusyu’an umat Islam dalam menjalankan ibadahnya. Dengan didukung oleh lingkungan masyarakat yang sedang gencar melakukan ibadah, orangtua bisa menerapkan pendidikan akhlak dan agama di dalam lingkup rumah. Menanamkan kesadaran anak puasa ramadhan dapat dimulai secara bertahap dan menyenangkan. Dengan mengajarkan anak puasa sejak dini, mereka akan terbiasa menjalankan ibadah puasa sebagai sebuah kebiasaan dan bukan lagi menjadi tekanan. Hal ini akan bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan spiritual anak di masa mendatang.

Mendisiplinkan anak puasa sejak dini bukanlah sebuah kekerasan

Ini merupakan pelajaran kedisiplinan tentang nilai-nilai keagamaan. Melatih anak puasa Ramadhan tidak sama dengan mewajibkan mereka berpuasa. Bahkan di dalam Islam sendiri telah disabdakan oleh Rasul-Nya: “Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak-anak yang belum baligh”. Selain itu dalam melatih anak puasa, orangtua harus mempertimbangkan kondisi dan kemampuan mereka. Telah jelas bahwa Islam sendiri tidak menghendaki adanya unsur paksaan dalam mendidik anak. Jadi orangtua akan memberikan motivasi kepada anak-anak dalam cara mendisiplinkan mereka seperti halnya melatih dalam melatih anak puasa Ramadhan.

Mumpung juga sedang dalam bulan Ramadhan, dimana sekolah-sekolah akan mendukung keberadaan bulan penuh berkah ini, jadi anak-anak biasanya juga akan termotivasi dari Guru mereka di sekolah maupun dari teman bermain atau teman sekolahnya. Mereka akan dengan senang hati menjalankan ibadah puasa ini bersama-sama.

Apakah anak balita juga sudah perlu dilatih untuk berpuasa?

Namanya juga melatih anak puasa sejak dini, tentunya balita-pun juga sudah bisa untuk dilatih puasa Ramadhan. Jangan berpikir bahwa puasa mereka seperti puasa yang dilakukan oleh orang dewasa. Namanya juga latihan, tentunya harus bertahap dalam pengenalannya. Puasa bukan berarti tidak boleh makan selama seharian penuh tetapi hanya menunda waktu makan siang mereka saja.
Pada tahap awal latihan anak puasa Ramadhan, balita biasanya sarapan sekitar pukul 07.00,  Anda dapat memberitahu balita Anda untuk menunda sarapan mereka menunggu jam 09.00 atau 10.00. Tentunya saat Anda sekeluarga bangun untuk makan sahur, Anda juga melatih balita Anda untuk bangun dan ikut makan sahur bersama. Setelah acara sarapan yang tertunda, ajak balita Anda untuk melanjutkan puasanya dengan memperbolehkannya makan lagi pada pukul 15.00, kemudian dilanjutkan lagi hingga magrib, dan melakukan buka bersama. Jika balita Anda masih belum mampu bertahan, berikan mereka sedikit kelonggaran. Dalam satu bulan, balita Anda mungkin akan melakukan peningkatan ketahanan berapa jam mereka bisa menahan lapar mereka. Bahkan bisa jadi di akhir Ramadhan mereka mampu tidak sarapan hingga jam 12 siang. Ada istilah untuk anak puasa sampai waktu dhuhur dengan sebutan ‘puasa dhuhur’ hanya untuk memotivasi anak agar mampu melakukan yang terbaik yang mereka mampu.
Bagi anak-anak usia sekolah, mereka sudah relatif lebih kuat, coba perhatikan jam biologisnya. Biasanya sampai pukul 12.00, mereka masih bertahan namun lewat tengah hari, mereka akan terlihat lemas. Jika memang mereka sudah tidak kuat, biarkan mereka berbuka. Tetapi jika mereka masih terlihat segar, ajak mereka menghabiskan waktu hingga ashar dan lebih bagus lagi jika bertahan hingga adzan Maghrib tiba. Istilah menghabiskan waktu ini dikenal sebagai ‘ngabuburit’.

Di awal latihan anak puasa Ramadhan merupakan masa penyesuaian tubuh terhadap rasa lapar. Anak-anak mungkin akan terlihat lemas dan mengantuk, biarkan saja mereka menghabiskan waktu untuk tidur siang, tetapi juga jangan biarkan mereka kebablasan (dalam artian tidur berlebihan), tetap berikan aktivitas yang menyenangkan bersama agar mereka juga tidak menjadi pemalas. Puasa bukan untuk bermalas-malasan. ajarkan saja mereka untuk belajar mengaji. Biasanya anak-anak kecil akan sudah terlihat ramai-ramai ke masjid atau mushola untuk mengaji bersama. Doronglah anak Anda untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan positif.

Setelah sahur dan menjalankan sholat Subuh sebaiknya batasi kegiatan anak, jangan biarkan mereka jalan-jalan pagi dalam jarak jauh atau melakukan olahraga yang menguras tenaga. hal ini untuk mencegah mereka kehabisan energi. Biarkan mereka bermain 1 jam sebelum maghrib untuk ngabuburit.
(Source: The Asian Parents)

Informasi Libur Sekolah

Hore. Libur telah tiba!

Menyambut pergantian semester dan Ramadhan ini, maka ananda KB/TK Alam Ar Rayyan libur mulai tanggal 23 Juni 2014 sampai dengan 13 Juli 2014, ananda masuk kembali ke sekolah 14 Juli 2014 seperti biasa.

Pisah Kenang TK Alam Ar Rayyan Tahun Ajaran 2013-2014

selamat masuk SD

 

Selamat menempuh ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu di Sekolah Dasar ya anak-anak. Semoga menjadi anak yang berguna bagi keluarga, nusa, bangsa dan agama. Aamiin.